Minggu, September 22, 2013

Cincin Itu Untuknya

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Maafkan aku ya, lagi-lagi aku kepo.


Ternyata cincin itu untuknya. bukan untukku.

Lagi Lagi Kepo

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Ya, lagi-lagi sulit untuk menahan rasa kepo.
Selamat ya, sekarang kalian pasti sedang suap-suapan spaghetti dan salad. Aku disini berusaha untuk ikut program diet OCD karena niatnya bukan untuk melangsingkan badan, 

Healing Process 1

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Masa pemulihan ini benar-benar sulit. Masalahnya, mata ingin terpejam, tapi tidak dengan hati dan pikiran yang disinkronkan dengan tangan untuk mengetik agar mata ini terjaga, karena pemulihan tadi. Ingin aku menjadi Sailor Moon agar dapat menggunakan tongkat "Moon Healing Escalation" untukku sendiri dan berteriak "REFRESH" sekencang-kencangnya.

Sabtu, September 21, 2013

Terima Kasih Atas Doanya

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Rasanya sekarang mulai merasa lega, sudah mulai ikhlas. Aku berterimakasih kepada sahabatku yang telah memberikan doanya. Luka ini segera pulih. Segera.

Terima Kasih Pak Mario Teguh. Super!

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Malam ini, bisikkanlah dalam doamu….
Tuhanku Yang Maha Pengasih,
Tabahkanlah hatiku yang sedang rapuh ini,

Malam Minggumu

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 2 comments
Sabtu ini tepat delapan hari kau dengannya.

Ketika Malam Tiba

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Luka ini perih kembali ketika malam hari tiba. Sekelebat bayangan buruk hinggap dalam pikiranku. Kau yang sehari ini mungkin...

Tentang Jatuh Cinta

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments

“Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya. Lah, siapa yang mempermainkan siapa, coba?”
— Tere Liye. buku “Berjuta Rasanya.”




Ketika jatuh cinta, aku tidak berilusi, kami sama-sama saling mengejar, saling berkorban, saling menyayangi, dan saling mengingatkan. Namun, konsekuensiku dengannya tak lazim, berbeda dengan pasangan kebanyakan. Fix, ini bukan saling mempermainkan. Keinginannya sungguh aneh. 

Kesetiaanku adalah Inspirasi

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Kesetiaan adalah suatu keadaan dimana kita mengukuhkan pada satu pilihan tanpa adanya keterpaksaan. Istilah sundanya panceg. Aku salut pada orang yang memiliki rasa setia. Karena sulit untuk setia. Termasuk aku yang sedang mengalami dilema kesetiaanku pada pilihanku.

Sayonara Dunia Maya

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Apa kabarmu dunia mayaku?
Kini aku akan menghindarimu
Untuk sementara waktu
Hingga aku menemukan muaraku

Unutk sementara aku disini dulu
Bercerita semauku
Tak peduli ada atau tidak yang mendengarku
Aku tak akan menemuimu, dunia mayaku.

Selamat tinggal, Sayonara.

Sendiriku

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Dalam sendiriku ini
Aku terkurung sepi
Menanti hal yang tak pasti
Memaafkan yang terjadi

Ini hanya setitik kerikil yang harus kunikmati
Perjalanan di depan nanti masih misteri

Prinsip Hati

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Ini benar-benar bagai mimpi. Bagai petir di siang bolong. Sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba ini membuatku benar-benar tidak percaya bahwa mimpi buruk ini terjadi padaku.

Aku tidak akan menyalahkan peranku, dan juga yang lainnya. Ini adalah ujian yang sangat terberat yang akan kualami. Entah, di depan sana, setelah ini apa lagi yang akan kutemukan dan harus ku tempuh.

Singkatnya, aku bertanya lagi padanya, memastikan keputusannya... ternyata benar. Ini benar-benar terjadi. Dia sudah tidak akan lagi hinggap pada kisahku saja, tapi juga pada kisah orang lain.

Kamis, September 19, 2013

Sampai Kapan?

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Berapa lama lagi waktu yang harus kugunakan untuk menunggumu? Masih kurangkah waktu yang selama ini ada?
Kau tahu dalam sewindu ini kita jarang dipertemukan. sms atau telepon itu pun tidak seintense teman-temanku yang lain jika ingin dibandingkan.

Luka Dalam Sewindu

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Sewindu, kini bukan hanya jadi lagu pengantar tidur bagiku, tapi ini menjadi luka hati serius yang sangat mendalam dan belum kutemukan penawarnya.

Ingkar

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Iya, aku sudah menyaksikannya.
Sedikit mengintip lewat socmed, mengingkari janjiku.
Takjub akan kebebasannya dan membandingkan denganku yang terkekang oleh batasanmu.

Aku tersentak akan itu semua. Aku benar-benar belum rela.

Bayang

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Aku ini bagai bayang yang terinjak. Sudah tak terlihat, lalu diinjak begitu saja tanpa permisi.

Rabu, September 18, 2013

Sayonara, socmed!

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Apakah genderang perang sudah mulai berbunyi?
Kalau iya, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku bukan anak kecil lagi mengingat umurku sudah menginjak 22.
Kalau aku melawan, entahlah. Aku bukan menyerah, hanya saja sangat lucu sekali bila aku membalasmu seperti anak kecil.
Mungkin aku wanita pendek yang berhati tinggi. Bukan, bukan sombong, lebih tepatnya berlapang dada.

Selasa, September 17, 2013

Teruntuk Radius 100 cm ku

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Dear Semua Sahabatku...
Apa kabar semuanya? lama tak berjumpa. Aku tahu kesibukanlah yang membuat kita renggang. Tapi aku tetap mengingat kalian. Ku tulis nama-nama kalian pada skripsi-ku. Pertanda aku berterima kasih pada kalian, sangat merindukan kalian, dan apapun yang terjadi, walau jarak memisahkan, aku tetap setia mengingat kalian.

Rabu, Maret 20, 2013

Kau, Aku, dan Sepeda

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments

Mimpi apa aku semalam?
Biar kuingat dulu sejenak. Hmm. . .
Semalam, aku bermimpi tentangmu. iya, Kau.
Lebih tepatnya, Kau, Aku, dan sepeda kita. . .

Lalu?
Kita bersama, berdua. . . Hmm, berempat dengan sepeda kita. . . 
Ber enam, karena sepeda beroda dua. 
Ah, cukup!

Kita hanya berdua, berjalan - jalan dengan sepeda.
Cukup santai, layaknya hubungan kita berdua.
Mengarungi keindahan Dunia, kemudian tiba di Ibukota!!!
Bersama kita bersepeda. Merasakan keseimbangan antara Kau, Aku, dan sekitar kita.
Sungguh, harmoni yang indah dan romantis. Bukan hanya denganmu, tapi dengan Atmosfir seisi bumi.
Sangat membahagiakan. Mimpi yang menakjubkan.

Kemudian ada iring-iringan dibelakang kita. Mereka semua mengikuti kita.
Kupandangi semua yang ber-iringan dibelakang kita, ternyata, mereka adalah keluargaku dan keluargamu.
Seakan-akan, hubungan ini sudah mencapai pada titik dimana kita ditakdirkan bersama.

Kau, Aku, dan Sepeda...
Inikah pertanda???


Parasitku Malaikatku

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih 0 comments
Hidup ini tidak pernah terlepas dari seorang parasit...

Uh, benar-benar menjengkelkan, giliran ada butuhnya saja mendekati,
setelah selesai dengan kebutuhannya, malah dianggap sampah.

"Aku ini bukan sampah, Didi..." ucapku pada sahabatku
"Terus? Kenapa? Ya jangan dibantu dong." jawabnya
"Ah, kamu di... kan..."
"Kan apa, Clara???"

Jawabanku terhenti sampai disitu... sejenak nafasku terasa tercekat, tercekik.
Padahal, tidak sama sekali.
Aku merasa tersentak hebat mendengar jawaban Didi. Itu mengguncang perasaanku...
Pikiranku melayang jauh...
***

Namanya Annie.
Dia adalah sahabat kecilku. Sahabat sedari kecil.
Kami selalu bersama sepanjang waktu. Kami selalu saling berbagi. Annie itu terlalu baik untukku.
Dia adalah malaikat yang ada disampingku selain ibuku.
Aku selalu dibully, dia selalu membelaku.

Suatu ketika, ada kejadian yang mengejutkan.
Aku sedang pulang sekolah SD, ketika itu, aku sedang berada di dalam kerumunan teman-teman nakal.
Aku saat itu dijaili habis-habisan...
Kemudian, Annie yang waktu itu berbeda kelas denganku, datang menghampiriku... Ia pun membantuku,
Ia menerjang semua kawanan teman yang jahil itu.
Aku terselamatkan.

Bukan hanya itu, dari mulai TK ia selalu membantuku, aku yang diledek teman-temanku gendut,
aku yang takut menyebrang.
Semua itu dibantu Annie, ia Malaikatku.

Hingga suatu ketika persahabatan kami selesai hingga SMP. Annie bergaul dengan teman yang ia inginkan.
Syarat mereka adalah Annie tidak berteman denganku lagi.
Annie tidak jahat, bukan, bukan Annie
Tapi keinginan Annie untuk berteman dengan mereka.

Terjemahan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Harewosland Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos