Sabtu, September 21, 2013

Tentang Jatuh Cinta

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih

“Orang-orang yang jatuh cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu. Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik. Padahal, saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya. Lah, siapa yang mempermainkan siapa, coba?”
— Tere Liye. buku “Berjuta Rasanya.”




Ketika jatuh cinta, aku tidak berilusi, kami sama-sama saling mengejar, saling berkorban, saling menyayangi, dan saling mengingatkan. Namun, konsekuensiku dengannya tak lazim, berbeda dengan pasangan kebanyakan. Fix, ini bukan saling mempermainkan. Keinginannya sungguh aneh. 

Betapa tidak, kami sudah tahu perasaan masing-masing. Tapi, untuk soal pengakuan, yang tahu hanya teman terdekatku. Keluarga kami pun CUKUP tahu bahwa kami HANYA teman saja. Begitupun teman dekatnya. Ia tidak mengakuiku semenjak masuk SMA semester dua awal di kelas sepuluh.



Sejak awal, dia berselingkuh denganku dari statusnya yang diketahui orang banyak bahwa dia sendiri. Rasanya orang selain aku tidak akan ada yang pernah mau menerima konsekuensi ini. Tapi anehnya, hati ini menerima dengan rasa ikhlas. Malah awalnya aku merasa baik-baik saja dengan keadaan ini. Asalkan dia denganku.

Aku merasa tidak jadi masalah kalau komunikasi kami jarang, kurang lebih seminggu tiga kali intens via sms atau telepon. Bertemu pun semenjak kuliah jarang. Jarak tidak memisahkan. Tapi, iya, ilusi itu selalu menyenangkan. Aku selalu menganggap ia benar. Aku yang seringkali menuntut keinginanku yang ingin diakui keberadaanku, selalu terpatahkan oleh argumennya yang memang logis. Aku selalu kalah debat. Jika ingin hitungan, dia mengatakan bahwa selama ini pengorbanan dia pun sebenarnya sama. Selalu memberi barang padaku yang aku butuhkan, selalu ada ketika aku sakit, mengerti apa yang aku inginkan tanpa aku minta. Lalu aku yang hanya memberinya sesuatu yang berdasarkan dengan perasaanku, seperti perhatian dan mendukungnya, menjadi teman ceritanya, aku yang mempertahankan ia walau tidak diakui keberadaanku. Ini artinya kami saling memberi tapi dengan cara yang berbeda, yang masing-masing menganggap telah berkorban. Aku korban perasaan.



Janganlah karena kesalahanmu dalam memilih orang untuk kau cintai, 
atau karena kesalahanmu
dalam cara mencintai, 
engkau mengumumkan bahwa
engkau membenci cinta,
karena itu seperti doa
agar engkau tak pernah dicintai lagi. 

Mario Teguh - Loving you all as always



Aku tidak membenci cinta, hanya saja aku ingin beristirahat dulu dari semua yang telah terjadi secara tiba-tiba.

0 comments:

Posting Komentar

Harewoser yang baik adalah Harewoser yang menunjukkan jati dirinya pada Kangjeng Ratu dengan kritik dan saran agar tidak terjadi kontroversi kemakmuran pada distrik Harewosland. Hatur Nuhun.

Terjemahan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Harewosland Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos