Sabtu, September 21, 2013

Prinsip Hati

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih
Ini benar-benar bagai mimpi. Bagai petir di siang bolong. Sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba ini membuatku benar-benar tidak percaya bahwa mimpi buruk ini terjadi padaku.

Aku tidak akan menyalahkan peranku, dan juga yang lainnya. Ini adalah ujian yang sangat terberat yang akan kualami. Entah, di depan sana, setelah ini apa lagi yang akan kutemukan dan harus ku tempuh.

Singkatnya, aku bertanya lagi padanya, memastikan keputusannya... ternyata benar. Ini benar-benar terjadi. Dia sudah tidak akan lagi hinggap pada kisahku saja, tapi juga pada kisah orang lain.

Entah ini untuk sementara, atau mungkin selamanya. Kali ini, sungguh, aku benar-benar tidak ingin menatap dunia maya. Sekarang, ia berhak untuk mendapatkan pengakuan itu. Tak apa aku tidak mendapatkannya. Aku harus tulus mencintainya. Aku yang perempuan ini harus bisa mengiklaskan pilihanku yang tidak akan lagi hanya singgah pada kisah yang panjang ini.

Suatu saat nanti, ingin aku bercerita tentang kisahku dengannya, maksudku, dibuat novel. Entahlah, mungkin dengan begitu aku dapat tenang seperti halnya Pak Habibie yang menceritakan kesetiaannya pada Bu Ainun. Tapi ini kebalikannya, Aku yang setia seperti beliau. Juga bisa jadi ini seperti kisah Perahu Kertas. Aku saat ini harus tahu diri. Tapi entahlah, endingnya tidak tahu seperti apa. Ah mungkin tidak jadi saja. Walaupun aku merasa kisahku langka, tapi bagaimanapun juga mungkin akan terwakilkan oleh kisah penulis lain. Karena aku belum tahu kemana aku akan bermuara dan aku tidak tahu aku ini tulang rusuk siapa.

Dan, aku tetap berpegang teguh pada pilihanku. Apapun yang terjadi nanti, bagiku, ini sudah menjadi prinsip hati.

0 comments:

Posting Komentar

Harewoser yang baik adalah Harewoser yang menunjukkan jati dirinya pada Kangjeng Ratu dengan kritik dan saran agar tidak terjadi kontroversi kemakmuran pada distrik Harewosland. Hatur Nuhun.

Terjemahan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Harewosland Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos