"Ibu tidak mengizinkan kau dengannya, Clar. Bagaimana tidak, dia bukan keturunan bangsawan!" bentak Ibu Clarina keras.
"Iya, Clar. Begitupun Ayah. Dia adalah keturunan dari musuh besar perusahaan ayah."
"Tapi ayah, bu. Kumohon, aku hanya mencintainya."
"Cinta? Tahu apa kau anak kecil tentang cinta. Sudahlah Clar, terimalah perjodohan dengan Datuk Meringis itu!"
"Hah? Datuk? Meringis?"
Clarina mengerjap-ngerjapkan matanya, ia pun kemudian mendarat ke dunia yang sebenarnya, lalu menyadari kejadian tadi hanyalah mimpi.
"Ah, syukurlah ini mimpi. Ini pasti karena aku membaca Romeo dan Juliet dicampur kisah Siti Nurbaya sebelum tidurku!"
Clarina memulai rutinitasnya kembali sebagai pelajar yang menyiapkan segala keperluannya di pagi hari dengan rasa bahagia setelah kemarin bertemu dengan pujaan hatinya.
"Takkan kuberitahu Ibu tentang hal ini." gumamnya menuju ruang makan.
Sirri
"Nek, bangun nek." ucap Sirri sembari mengguncang-guncang tubuh neneknya yang tidak sadarkan diri. Beberapa menit kemudian, barulah Nenek bangun dan bergeming.
"Sirri, cucukku. Sepertinya ini sudah waktunya."
"Nek, jangan bicara seperti itu. Nenek pasti sembuh."
Tanpa menghiraukan ucapan Sirri, Nenek memberikan pesan terakhirnya.
Tanpa menghiraukan ucapan Sirri, Nenek memberikan pesan terakhirnya.
"Ini, untukmu."
"Nek, apa ini? surat?"
"Wasiat. Di dalamnya tersimpan liontin peninggalan Ibumu."
"Ibu? Aku tidak butuh ini Nek!" ucap Sirri setengah kecewa.
"Sirri, Nenek mohon sekali, ini penting untuk...." Napas Nenek kemudian tersendat. Sirri menjadi bertambah khawatir.
"Nenek... Nek, sadarlah. Jangan tinggalkan Sirri..."
Sirri pun menahan tangisnya yang harusnya meledak lebih dari itu. Tangisnya mengantarkan kepergian Nenek tercintanya, sembari menggengam erat wasiat yang dberikan dari Nenek untuknya.


0 comments:
Posting Komentar
Harewoser yang baik adalah Harewoser yang menunjukkan jati dirinya pada Kangjeng Ratu dengan kritik dan saran agar tidak terjadi kontroversi kemakmuran pada distrik Harewosland. Hatur Nuhun.