Selasa, Januari 22, 2013

Dua

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih

Juli 2012
Kejadian itu berlangsung begitu cepat, secepat kilatan petir menyambar. Tak ada yang tahu tentang kejadian itu. Hanya, disudut cahaya temaram, sesosok anak lelaki kecil memperhatikan kejadian itu. Menatap dengan tatapan yang kaget, shock dan tersentak. Ia tersudut ketakutan melihat kejadian itu. Kejadian yang tidak akan ia lupakan seumur hidupnya.
***
Clarina

Wanita itu berkaca pada dirinya sendiri. Dengan raut wajah yang teramat bahagia berseri-seri, ia memegang pipinya sendiri. Pipinya yang kemerahan karena sapuan blush on menyamarkan warna pipinya yang sedang merah padam betulan.

"Oh akhirnya, aku sudah menemuinya. Cermin, aku malu sekali pada diriku sendiri." ungkapnya

"Kamu tidak perlu malu, ia pasti bahagia menemui mu." ucapnya kemudian sambil melihat cermin dengan suara yang disamarkan. seakan-akan suara itu adalah jawaban dari cermin.
Padahal ia sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Kebiasaannya.

"Tetapi cermin, celaka kalau Ibuku tahu, ia pasti marah." tanya Clar pada dirinya sendiri sambil menatap cermin.

"Kau tidak salah, untuk apa Ibu marah? Kau hanya menemuinya saja. Dia itu hanya temanmu." Jawabnya sambil menunjuk-nunjukkan tangannya pada pantulan dirinya.

Clar mulai lelah, ia menjatuhkan badannya kebelakang, karena tepat dibalik punggungnya ada tempat tidur yang siap menjadi kendaraannya menuju alam impian. Clar menatap langit-langit kamarnya yang transparan. Tampak milyaran bintang-bintang yang bersinar, berkedip genit pada dirinya. Clar terus menatap langit, kemudian membalas kedipan bintang-bintang genit, Ia takjub akan malam yang begitu indah baginya. Padahal taburan bintang tidak seperti hari-hari biasanya, sinarnya pun tidak begitu terang. Malam itu berbeda. Gelap pun seakan-akan menjadi benderang.

"Aku akan kesana."
Itulah ungkapan terakhirnya, sebelum ia tertidur. Tertidur untuk sementara, di dunia.

Sirri
Hujan turun diwaktu yang sangat tepat. Ketika itu, seorang remaja pria Bernama Sirri sedang bersembunyi dari hujan, sekaligus menghindar dari kesalahannya sendiri. Ia berhasil mencuri beberapa barang yang harganya bisa membuat orang menggelengkan kepalanya dan ingin membunuhnya. Segera.
Sirri terbiasa dengan persembunyian dan perilakunya, Ia cekatan, lincah dan gesit soal menyembunyikan dirinya dan hasil barang curiannya.

Matahari kemudian menyeruak menyinari bumi. Sirri berubah berganti pakaian. Menyamar. Lalu dengan santainya Sirri pergi menuju tempat tinggalnya. Ia bersama nenek dan anak-anak panti asuhan. Ia mengasuh anak-anak jalanan. Sendiri. Seperti itulah sikapnya bak Robinhood kesiangan, duplikat dari Robinhood.

Sirri sangat setia pada Neneknya. Sejak kecil, Ibu dan Ayah Sirri telah meninggalkannya. Menghilang entah kemana. Ketika itu yang selalu bersama Sirri adalah neneknya. Mereka bertahan hidup berdua dalam keadaan yang sangat terpuruk sekali.

***

0 comments:

Posting Komentar

Harewoser yang baik adalah Harewoser yang menunjukkan jati dirinya pada Kangjeng Ratu dengan kritik dan saran agar tidak terjadi kontroversi kemakmuran pada distrik Harewosland. Hatur Nuhun.

Terjemahan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Harewosland Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos