Minggu, Januari 20, 2013

Satu

Posted: Kangjeng Ratu Nada Asih

Peron kereta itu sudah tidak layak pakai, terbengkalai begitu saja. Terlihat kumuh, kotor, dan berdebu. Dindingnya yang terbuat dari bata, sudah terlihat usang, bahkan sebagian sudah rapuh.

***


Tepat pukul 8 malam, mereka berdua mematung, saling berhadapan.
Hening dan suram, itulah keadaan dimana mereka berada. Tepatnya, mereka sudah berada di garis pembatas kereta api bawah tanah. Mereka kemudian menatap ke arah rel kereta yang tentunya saja kosong, tidak ada kereta yang melintas. Hanya angin yang menemani mereka berdua disana.

"Kau sudah siap?" tanya Sirri pada Clarina.

"Iya, aku sudah siap." jawab Clar mantap.

"Kau sudah yakin? karena disinilah kita akan. . . ."

"Ssst, Sirri. . ."  Clar kemudian menempelkan telunjuk jarinya pada ujung bibir Sirri. ". . .disini kita bertemu untuk berpisah, maka kita berpisah untuk bertemu kembali." ucap Clar meyakinkan Sirri.

"Kau janji, Clar?"

"Ingat, kita tidak boleh berjanji. Yakin. Kita harus yakin, Sirri."

"Baiklah. Waktu kita tidak banyak. Sampai berjumpa, Clarina."

"Sampai bertemu. Senang bisa bertemu denganmu, Sir."
Clarina melemparkan senyumnya. Senyum yang selama ini selalu dinantikan oleh Sirri.

"Baik Clar, dalam hitunganku, 1, 2, 3"

Tanpa ragu-ragu mereka berdua melompati rel kereta api bawah tanah yang kosong.
Seketika mereka lenyap dari pandangan mata.
Pergi bersama cahaya yang melintas. Sekejap.

***

0 comments:

Posting Komentar

Harewoser yang baik adalah Harewoser yang menunjukkan jati dirinya pada Kangjeng Ratu dengan kritik dan saran agar tidak terjadi kontroversi kemakmuran pada distrik Harewosland. Hatur Nuhun.

Terjemahan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 

Harewosland Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos