Pemikiran anak kecil itu sungguh sangat polos. Contohnya, dulu waktu sebelum berkepala dua, bahkan belum menginjak remaja, aku mengartikan bahwa cinta itu sederhana, hanya saling menjaga dan saling menyayangi satu sama lain dengan pasangan kita, bersama hingga akhir hayat. Tidak ada drama, tanpa segitiga, tanpa kata perpisahan, tanpa menyia-nyiakan air mata, yang ada hanya bahagia.
Setelah menginjak remaja hingga sekarang berkepala dua, ternyata. . .
banyak sekali hal yang memang baru disadari. Cinta itu universal, bukan hanya tentang sepasang kekasih yang saling mencintai, tapi cinta pada Alloh dan Rosulnya (sudah pasti ini mah), cinta pada keluarga, cinta pada sahabat dekat * I mean gals pals or bro-hood things*, cinta pada hewan peliharaan, cinta pada kaum yang tak berpunya, termasuk cinta yang bertepuk sebelah tangan hingga akhir hayat mereka. So wide, so colorful... so universal.
Sungguh, banyak sekali kudengar cerita dan melihat kisah nyata tentang dua manusia yang saling mencintai. Dulu kukira semua orang yang mengikat janji pernikahan itu adalah pasangan yang saling mencintai, padahal kenyataannya tidak begitu. Beragam kisah yang kudengar semisal perbedaan keyakinan, mudah bosan, bahkan hingga mengikat ijab kabul saja ada yang bertepuk sebelah tangan dikarenakan kedua kisah sebelumnya tadi.
Jodoh itu misterius, takdir pun dapat dirubah melalui doa. Jadi????
Jodoh itu misterius, takdir pun dapat dirubah melalui doa. Jadi????
"Beruntunglah bagi kalian yang berpasang-pasangan sekaligus saling mencintai. Paket lengkap yang harus disyukuri dan dipertahankan hingga akhir hayat." *Nada Says*
Sulit, sangat sulit kubayangkan jika aku nantinya bersanding dengan orang yang tidak mempunyai chemistry dan rasa nyaman dari dalam diriku ini terhadap dirinya. Salut, sangat salut kepada orang yang berprinsip bahwa lambat-laun rasa cinta itu akan tertanam seiring berjalannya waktu, dengan siapapun itu orangnya. Tapi, aku tidak begitu, tidak bisa dipaksa dan tidak ingin merasa terpaksa menjalani sebuah komitmen, maaf aku tidak bisa seperti itu. Ya, setelah kisahku yang berakhir dengan perpisahan karena rasa bosan melandanya, sifatku akan menjadi semakin picky saja, yang artinya terlalu memilih, terlalu selektif. Bisa jadi ini semacam Anuptaphobia. Walaupun belum pernah menikah, tapi tetap saja dalam diri ini ada semacam sugesti ketakutan menikah dengan orang yang tidak tepat, dalam istilah psikologi disebut Anuptaphobia. But, don't worry, harewoser. Walaupun Anuptaphobia melanda jiwa, aku masih normal, masih menggemari John Mayer, Johnny Depp, Jared Leto, Norman Reedus, Adam Levine, Phillip Phillips Jr., Channing Tatum, Reza Rahadian, Ganindra Bimo, Mas Danang, Vicky Nitinegoro, Ryan Delon, Andi Arsyil, Joe Taslim, Rio Dewanto, siapa lagi ya...... *ayo diabsen-diabsen*
Tepatnya...
Hanya Alloh yang dapat membolak-balikkan hatiku yang sudah mulai tertutup rapat bagi lelaki manapun dan siapapun.
Astaghfirullah Hal Adzhiim.
Nun Gusti, pasihan jisim kuring kakiatan dina milampah pikeun neangan jalan bebeneran. Amin.


0 comments:
Posting Komentar
Harewoser yang baik adalah Harewoser yang menunjukkan jati dirinya pada Kangjeng Ratu dengan kritik dan saran agar tidak terjadi kontroversi kemakmuran pada distrik Harewosland. Hatur Nuhun.